Do not look at the origin of eggs

Do not look at the origin of eggs. Jangan melihat asal telur itu dari mana keluarnya, tapi hampir semua orang hanya berpikir manfaat kandungan gizi yang ada pada telur. Asupan bergizi yang murah dan mudah mendapatkannya.
Pun juga sebuah kebenaran. Bisakah kita berpikir bahwa kebenaran adalah kebenaran? kebenaran tak perlu ditolak, kebenaran tak perlu dihindari apalagi diasingkan, sekalipun yang membawa kebenaran itu adalah orang kotor.
Kebenaran yang berkaitan dengan indera penglihatan adalah sebuah permaianan optik yang mempengaruhi otak berkata sesuatu, oleh karena itu kebenaran itu adalah hakikat sejatinya setelah tembusnya sebuah ilusi optik dari suatu sudut pandangan manapun ia. Ia akan tampak jelas seperti yang sejatinya sebuah kebenaran.

Ketika seseorang memandang ke sebuah gunung dari kejauhan, ilusi optik memerintahkan kepada otak untuk mengatakan ada sebuah gugusan yang rapih dan hijau nun jauh di sana, tetapi ketika ia datang mendekat ternyata penuh rerimbunan pohon-pohon besar tegak berdiri di atas tanah yang menjulang dan tak beraturan.

Lalu munculah sebuah pertanyaan apakah kedua penglihatan yang berbeda atas satu obyek yang sama, keduanya itu pula disebut kebenaran ?

Okelah saya tidak ingin terjebak pada diskusi yang menyangkut filosofi dan filsafat sesuatu. Hanya saja saya mengajak untuk menyepakati bahwa kebenaran adalah fitrah, kebenaran adalah sesuatu sesuai prosedur, kebenaran adalah ikatan antara nurani dan kesepatan yang diakui bersama.

Mari kita terima kebenaran tanpa melihat siapa yang melakukan kebenaran. Jika ia telah melakukan sesuai aturan dan prosedur dengan benar, tak perlu berpikir telur itu asalnya dari mana, bukankah tempat keluarnya telur itu juga tempat keluarnya kotoran?
Do not look at the origin of eggs…….

FacebookTwitterGoogle+TumblrWhatsAppShare

Menjadi yang Terbaik

Diantara Gajah-gajah yang hebat, pasti ada diantaranya yang brengsek. Diantara bebek-bebek yang kerdil, pastilah ada diantaranya ada bebek yang hebat. Jadi apapun kita, jadilah yang hebat. (Mario Teguh : 2010) Continue reading

FacebookTwitterGoogle+TumblrWhatsAppShare

Lomba Desain LOGO

Bagi rekan narablog yang hobi desain logo, ini ada ajang bagus untuk mempresentasikan hasil karya kreativitas yang diselenggarakan kementrian  Luar Negeri. Kepada Mas Ndru, pak Zarod ini kesempatan lho. Kalau saya sih sudah keketuaan, eh ketuaan… Lomba Logo Keketuaan Indonesia di ASEAN Tahun 2011 diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri Republik […]

FacebookTwitterGoogle+TumblrWhatsAppShare

Menunggu Matahari di atas Ka’bah

Pada mulanya, kiblat mengarah ke Yerusalem. Menurut Ibnu Katsir,[1] Rasulullah SAW dan para sahabat shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka shalat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Ka’bah. Oleh karena itu beliau sering shalat di antara dua sudut Ka’bah sehingga Ka’bah berada di antara diri beliau dan Baitul Maqdis. Dengan demikian beliau shalat sekaligus menghadap Ka’bah dan Baitul Maqdis. Continue reading

FacebookTwitterGoogle+TumblrWhatsAppShare