Pendidikan Tiada Batas

CANDRA SENGKALA

SIRNA PRAJA ILANGING BEKTI

Pak Sastro yang kini tinggal di Kalimantan Tengah lahir dengan candra Salira Rasa Hanggatra Negara menggagas sebuah candra yang pas sesuai keadaan zaman di tahun ini. Tahun 2010 ini ditandai banyaknya para pejabat yang tidak mengemban amanat. Di sana-sini terdengar berita tentang penyalahgunaan jabatannya.

Bukan tanpa alasan jika Pak Sastro mengusulkan kepada narablog dan budayawan bahwa candrasengkala yang pas untuk tahun 2010 ini adalah SIRNA PRAJA ILANGING BEKTI. Kalimat candrasengkala ini menggambarkan keadaan yang berlaku selama tahun ini. Adapun pemaknaannya adalah sebagai berikut :

SIRNA – PRAJA – ILANGING – BEKTI
0     –      1     –       0      –   2

Candrasengkala adalah melambangkan angka dengan kata-kata. Pemilihan kata yang tepat dipercayai memiliki kekuatan magis. Selanjutnya kata-kata tersebut disusun menjadi kalimat yang bermakna baru. Penyusunan kata-kata tersebut dirangkai secara terbalik urutannya. Makna kalimat baru yang terbentuk bisa bermakna positif, dapat juga bermakna negatif, atau bahkan hanya sekedar perlambang.

Sebagai contoh runtuhnya kerajaan Majapahit terdapat sebuah candrasengkala Sirna Ilang Kertaning Bumi (1400). Sirna ilang kertaning bumi (1400 saka) artinya tidak adanya bakti anak pada orang tua ( R. Patah) pada Prabu brawijaya pamungkas. istilahnya modernnya ya perebutan kekuasaan. karena perebutan kekuasaan itu tentu tidak ada lagi rasa hormat. sehingga peristiwa suksesi Majapahit tersebut ditandai dengan bahasa sirna ilang kertaning bumi. setiap penulisan sengkalan itu tersembunyi ungkapan yang estetik, bahasanya tidak vulgar seperti sekarang, misalnya; copot, turunkan, pecat dsbnya. kata ilang kertaning itu sudah mendalam sekali ” ilanging tatakrama, unggah-ungguh, subasita”. Contoh lain wong Jawa ilang jawane. Atau Pakubuwana IX ” keh wong ngreti ring basane liyan, kapiran basane dhewe”. tanda-tanda hilangnya bahasa Jawa yang ditengarai dari orang Jawa sendiri, yang sudah tidak mempedulikan lagi bahasa (Adiguna Sastra :2009)

Berikut kata-kata yang digunakan dalam sengkala untuk melambangkan suatu bilangan (maaf seadanya ya karena jujur saja sudah banyak yang lupa):

1 : Bumi, buana,  surya, candra, tunggal, ika, eka, (p)raja, manunggal, negara dll.
2 : dwi, tangan, sikil, kuping, mata, netra, panembah, bekti, dll
3 : tri, krida, gebyar, dll
4 : catur, kerta, dll
5 : panca, astra, tumata, dll
6: rasa, sad, bremana, anggata, dll
7 : sapta, sinangga, sapi dll
8 : asta, naga, salira, manggala, dll
9 : nawa, hanggatra, bunga, dll
0 : ilang, sirna, sonya, dll

Contoh sengkala-sengkala yang lain :

  1. Lambang kraton Yogya –> “DWI NAGA RASA TUNGGAL” melambangkan tahun 1682.
  2. Kabupaten Banyumas –> “BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA” melambangkan tahun 1582
  3. Kabupaten Sleman —> “RASA MANUNGGAL HANGGATRA NEGARA” melambangkan tahun 1916 (Masehi)
  4. Kabupaten Sleman —> “ANGGATA CATUR SALIRA TUNGGAL” melambangkan tahun 1846 (tahun Jawa)
  5. Kabupaten Pati —> “KRIDANING PANEMBAH GEBYARING BUMI” melambangkan tahun 1323

Semua sengkala-sengkala di atas melambangkan atau menunjukkan tahun berdirinya masing-masing daerah. (deking: 2007)

Bagaimana menurut Anda? candrasengkala apa yang tepat untuk tahun 2010? BECIK KETITIK YEN ALA AYO DIBECIKNA WAE.

Share

Comments

comments

7 Comments

  1. January 7, 2014    

    'wisikan' — angka berapa…?
    lengkapi dnk……

  2. santi santi
    January 29, 2013    

    Tulisan hanacarakanya kurang pas…….

    • January 31, 2013    

      sepertinya ya saya lagi belajar nulis

  3. May 15, 2012    

    Assalamu’alaikum pak budi, sugeng dalu.. apakah benar bahwa candrasengkala memiliki kekuatan magis? bisakah saya diberikan contoh dan keterangannya.. sebab saya menemukan artikel bapak di atas dicopas oleh penulis aktivis ormas Islam “M” yang karena ada kata “magis”-nya mereka kemudian memasukan kedaftar perbuatan syirik (bisa dibaca di ml.scribd.com/doc/58791414/Ensiklopedi-Syirik atau di buku Ensiklopedi Syirik & Bid’ah Jawa oleh Fahmi S. dan A. Aman terbitan penerbit A ).. Sebagai seorang muslim yang mencintai budaya jawa, saya yakin (secara fakta) tidak ada samasekali unsur magis di konsep candrasengkala, sebab candrasengkala hanyalah sebuah tetenger tahun yang merepresentasikan peristiwa di tahun bersangkutan dan dibuat setelah peristiwa tersebut terjadi (jadi juga bukan pula ramalan), kalaupun candrasengkala bermakna do’a bagi seorang bayi yang sudah lahir dan do’a kepada Allah SWT tersebut terkabul, ya apa salahnya? dimana syiriknya? bahkan Allah SWT sendiri yang mewajibkan setiap manusia untuk berdo’a kepada-Nya.. Mungkin bapak bisa konfirmasi kepada kedua penulis buku tersebut, sebab tuduhan syirik kepada pembuat candrasengkala adalah tuduhan fatal dan bentuk kedzaliman besar.. mengenai candrasengkala bisa bapak baca di begawanariyanta.wordpress.com

    • May 16, 2012    

      terima ksih.. informasinya.. candrasengkala memiliki kemiripan dengan nama..
      di dalam agama kita di anjurkan untuk memberi nama anak-anak kita dengan nama yang baik
      bukankah nama baik itu mempunyai kekuatan “magis” bagi yang memilikinya?
      bagaimana kalau sejak kecil saya diberi nama AL BEJAD, AL MURTAD, ahlul syirik… kan kalau sekedar ada arabnya, nama-nama tersebut ada arabnya…?
      Nama memiliki doa, pertanda, dan harapan?
      bukankah doa itu sendiri memiliki daya “magis”
      Saya tidak ingin terjebak pada perdebatan kata “magis” menurut pendapat masing-masing.
      JIka saya diturunkan dari nenek moyang yang Jawa, mengapa harus mengecamnya?
      Asal ilmu itu sendiri adalah sebuah kebenaran, kalau salah itu adalah yang menggunakan ilmu

  4. May 15, 2012    

    Assalamu’alaikum pak budi, sugeng dalu.. apakah benar bahwa candrasengkala memiliki kekuatan magis? bisakah saya diberikan contoh dan keterangannya.. sebab saya menemukan artikel bapak di atas dicopas oleh penulis aktivis ormas Islam “M” yang karena ada kata “magis”-nya mereka kemudian memasukan kedaftar perbuatan syirik (bisa dibaca di ml.scribd.com/doc/58791414/Ensiklopedi-Syirik atau di buku Ensiklopedi Syirik & Bid’ah Jawa oleh Fahmi Suawaidi dan Abu Aman terbitan AQWAM).. Sebagai seorang muslim yang mencintai budaya jawa, saya yakin (secara fakta) tidak ada samasekali unsur magis di konsep candrasengkala, sebab candrasengkala hanyalah sebuah tetenger tahun yang merepresentasikan peristiwa di tahun bersangkutan dan dibuat setelah peristiwa tersebut terjadi (jadi juga bukan pula ramalan), kalaupun candrasengkala bermakna do’a bagi seorang bayi yang sudah lahir dan do’a kepada Allah SWT tersebut terkabul, ya apa salahnya? dimana syiriknya? bahkan Allah SWT sendiri yang mewajibkan setiap manusia untuk berdo’a kepada-Nya.. Mungkin bapak bisa konfirmasi kepada kedua penulis buku tersebut, sebab tuduhan syirik kepada pembuat candrasengkala adalah tuduhan fatal dan bentuk kedzaliman besar.. mengenai candrasengkala bisa bapak baca di begawanariyanta.wordpress.com

  5. October 26, 2010    

    dulu saya bisa baca dan tulis huruf kuno seperti di atas, tapi kalau sekarang udah agak lupa lagi…

No Pings Yet

  1. Candrasengkala, Simbolisasi Angka Tahun dalam Budaya Jawa - Ryan Mintaraga on December 4, 2015 at 22:26
  2. nagari ngayogjakarta hadiningrat | www.budies.info on December 14, 2010 at 23:51

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Download this post as PDF

berrybenka

cari produk di Lazada

Google+ follower

Belanja di LAZADA

Lazada Indonesia

Get paid to share your links!
SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline